Ad Code

Responsive Advertisement

Doomscrolling: Kebiasaan Buruk yang Bikin Kamu Terjebak dalam Lingkaran Berita Negatif

Pernah nggak sih kamu cuma niat buka HP sebentar, tapi tiba-tiba udah berjam-jam scrolling berita atau media sosial, dan yang kamu baca malah bikin makin cemas? Berita buruk soal dunia, drama politik, atau masalah-masalah sosial seakan nggak ada habisnya muncul di timeline. Kalau kamu pernah ngalamin ini, bisa jadi kamu terjebak dalam kebiasaan doomscrolling. Kita semua pasti pernah ngerasa kayak gini, apalagi di era serba digital ini, di mana berita negatif bisa muncul kapan aja. Jadi, gimana sih sebenarnya dampak doomscrolling ini buat kita?

Doomscrolling: Kebiasaan Buruk yang Bikin Kamu Terjebak dalam Lingkaran Berita Negatif
Gambar : Ilustrasi Doomscrolling

Menurut Tess Brigham, seorang psikoterapis dan pelatih, doomscrolling itu sama seperti nge-scroll tanpa sadar melalui artikel berita negatif, postingan media sosial, atau konten-konten di platform online lainnya. Intinya, kamu terus-menerus baca satu cerita negatif ke cerita negatif lainnya. Bahkan, ada sebuah studi dari Kanada yang menyebut fenomena ini sebagai "panik media sosial."

Sebenarnya doomscrolling udah ada sejak 2018, dan istilah ini mulai sering digunakan di Twitter. Sejak itu, doomscrolling jadi bagian dari budaya digital, khususnya di kalangan yang sering menghabiskan waktu di internet.

Ciri-Ciri Kamu Sedang Doomscrolling

Gimana sih caranya tahu kalau kamu lagi doomscrolling? Salah satu tanda jelasnya adalah ketika kamu udah menghabiskan waktu beberapa menit atau bahkan berjam-jam baca berita atau postingan online yang umumnya bikin hati makin nggak tenang. Biasanya, doomscrolling terjadi ketika kamu tiba-tiba sadar kalau kamu udah baca banyak cerita negatif dan nggak tahu gimana caranya kamu bisa sampai di situ. Mungkin awalnya kamu cuma niat buka HP sebentar, tapi akhirnya kebablasan baca ratusan komentar atau retweet dari orang yang bahkan nggak kamu ikuti.

Seperti yang Brigham bilang, doomscrolling itu adalah ketika kamu terjebak di sebuah berita atau postingan, tapi nggak tahu gimana bisa sampai di situ dan kenapa awalnya kamu buka HP.

Siapa yang Rentan Terjebak Doomscrolling?

Brigham menjelaskan bahwa mereka yang sering merasa cemas atau punya gangguan kecemasan lebih rentan untuk terjebak doomscrolling. Gangguan kecemasan ini bisa termasuk serangan panik, PTSD (gangguan stres pascatrauma), OCD (gangguan obsesif-kompulsif), atau gangguan kecemasan sosial. Orang-orang dengan kecemasan merasa perlu untuk selalu mengontrol situasi di sekitarnya, dan salah satu caranya adalah dengan terus mencari informasi.

"Semakin kita merasa cemas, semakin kita berusaha mengontrol situasi dan orang-orang di sekitar kita," kata Brigham. "Mencoba tetap terinformasi kelihatannya seperti cara bagus buat ngendaliin apa yang terjadi, tapi malah bikin kita makin cemas dan takut."

Kenapa Orang Tetap Doomscrolling Meski Tahu Itu Buruk?

Kalau doomscrolling bikin mental jadi makin buruk, kenapa orang tetap melakukannya? Menurut Brigham, banyak orang yang terjebak dalam doomscrolling karena merasa ini cara untuk mendapatkan kendali di dunia yang terasa kacau. Orang-orang berpikir, "Kalau aku tahu apa yang terjadi, aku bisa lebih siap kalau keadaan makin buruk." Ketakutan bahwa sesuatu yang buruk bisa terjadi tanpa peringatan mendorong mereka untuk terus menggali berita-berita negatif.

Brigham juga menambahkan bahwa sebagai manusia, kita secara alami dirancang untuk bertahan hidup dan memperhatikan hal-hal yang bisa mengancam kita. Naluri ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita, ketika mereka harus terus waspada terhadap bahaya fisik. Meskipun dunia kita sekarang sudah berbeda, naluri untuk menjaga diri dari ancaman masih ada, dan kita merasa aman ketika membaca berita-berita negatif karena kita berpikir kita lebih siap menghadapinya.

Dampak Negatif Doomscrolling pada Kesehatan Mental

Meskipun doomscrolling terasa seperti cara untuk "mengendalikan" ketakutan, kenyataannya ini buruk untuk kesehatan mental. "Doomscrolling nggak memberikan manfaat apa pun bagi kesehatan mentalmu," jelas Brigham. "Sebaliknya, itu hanya bikin kamu makin cemas dan paranoid tentang dunia di sekitarmu."

Kebiasaan ini juga membuat kamu kehilangan kesempatan untuk hidup di momen sekarang karena aktivitas scrolling yang "nggak sadar" tersebut. Doomscrolling mengganggu kemampuanmu untuk fokus pada perasaan dan pikiranmu sendiri, yang tentunya sangat penting buat menjaga kesehatan mental. Bahkan, kamu mungkin nggak sadar seberapa besar dampak negatifnya terhadap psikologismu.

"Selama kamu nge-scroll artikel-artikel negatif itu, kamu mungkin nggak nyadar gimana semua informasi negatif tersebut memengaruhi pikiranmu. Tapi saat kamu coba memejamkan mata dan tidur, otakmu malah dipenuhi oleh gambaran-gambaran mengerikan dari berita yang kamu baca."  jelas Brigham. 

Cara Berhenti Doomscrolling

Meski godaan untuk terus-terusan mengonsumsi berita negatif sangat besar, ada beberapa cara untuk mengubah kebiasaan scrolling ini jadi lebih positif. Salah satu caranya adalah dengan hanya mengunjungi situs yang kamu percaya memberikan berita yang seimbang dan akurat. Beberapa situs berita memang suka bikin sensasi untuk menarik perhatian pembaca, jadi sebisa mungkin hindari platform yang seperti itu. Fokus pada media yang memberikan informasi jujur dan tidak berlebihan.

"Batasi jumlah konsumsi berita harianmu," saran Brigham. "Kamu tetap bisa terinformasi hanya dengan nonton satu program berita atau baca ringkasan peristiwa hari ini."

Kalau kamu udah sering merasa terjebak dalam lingkaran doomscrolling beberapa kali sehari, saatnya untuk melakukan pengecekan kesehatan mental. Terapkan tips dari Brigham untuk menghindari kebiasaan ini sebelum semakin merusak kesehatan mentalmu.

Doomscrolling mungkin terasa seperti cara untuk tetap waspada dan siap menghadapi hal buruk, tapi kenyataannya, itu hanya memperburuk kecemasan dan merusak kesehatan mental. Penting untuk sadar akan dampaknya dan mencari cara untuk mengurangi kebiasaan ini. Dengan membatasi waktu di media sosial dan situs berita negatif, kamu bisa menjaga kesehatan mental tetap stabil dan fokus pada hal-hal positif dalam hidup.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement